1st step 20s (21)
Di postingan terakhir bahasannya semacam ambisius dan menggebu banget ya. But, ya, aku bersyukur pernah memikirkan tentang 'bahagia'-nya aku. Alhamdulillah 'ala kuli hal. Sudah setahun lebih dari saat itu. Banyak hal terjadi. Beneran. Benar-benar melakukan 'menyelami samudera Yasmin'. Dapat satu kesimpulan untuk saat ini, bahagia itu sakinah, ketenangan. Bagaimanapun itu bentuknya, ya ketenangan versimu, bukan versi orang lain. Kalau boleh jujur, bagiku buat nemuin hakikat bahagia yang seperti itu g mudah sih. Apalagi buat si perfeksionis dan tipe orang yang g mau kelihatan lemah kayak aku. Poin pertama itu, menerima diri kalau diri ini ada kelemahan berujung dengan, hmmm, ternyata selama ini yang menyiksa diriku ya diriku sendiri. Standar terlalu tinggi dan memaksakan diri g sesuai kemampuan. Rakus dengan inginnya menguasai semua, melakukan semua, padahal memang bukan jatah dan perannya buat melakukan hal-hal tertentu itu. Ya jelas banget lah, batin nuranimu tersiksa, Min. xixixi. Menjadi versi terbaik dari diri sendiri alias menjadi diri sendiri itu penting, tapi coba deh baca post ini (sekalian promosi hehe) Bahaya Dibalik Kalimat Menjadi Diri Sendiri. Kukutipkan sedikit:
"Sebelum menjadi diri sendiri, seseorang hendaknya mengenal terlebih dahulu dirinya sendiri. Dia tau apa yang dia mau dan dia tau apa saja yang seharusnya dia lakukan. Mengetahui potensi untuk mengembangkan diri agar hidupnya lebih bermanfaat dan bisa lebih banyak berbagi. Dia mampu untuk mengidentifikasi watak dan kepribadiannya. Dia mampu untuk mengakui kelebihan dan menerima kekurangannya. Dan tak lupa ia juga paham sebagai fitrahnya menjadi manusia. "
mengenal terlebih dahulu dirinya sendiri. Dia tau apa yang dia mau dan dia tau apa saja yang seharusnya dia lakukan, kurang lebih itulah yang aku lakukan sepanjang usia 20-21 tahun ini. Ketemu g? Ya so-so, bisa dibilang iya, mengarah ke sana. Doakan ya.
Bagian dari penerimaan diri itu salah satu awal buat menuju sakinah itu, g ada lagi tuntutan atas dasar kerakusan atau hanya karena iri sama orang lain kepada diri ini.
Pernah, dan ini jadi satu hal yang penting juga. Bingung sebenarnya hidup itu terus ngapain? pernyataan yang muncul setelah aku mulai berdamai agar g rakus dan iri sama orang lain (berkompetisi g sehat yang makan hati). Jawaban yang muncul simpel, then, aku ngomong sama diriku, "Min, kamu kan punya status sebagai hamba Allah nih. Masih ada iman kan? Nah, itu, jawabannya. Hidup itu ngapain? memerankan 'hamba Allah' dengan maksimal sesuai SOP yang di Al-Qur'an dan As-sunnah, dah itu aja pegangannya."
cmiiw
*nulisnya malem, abis digempur dari hari ke hari, mohon maaf kalau ada ejaan yg kurang tepat, chill!
Komentar
Posting Komentar